Cereita Sex Desahan Mahasiswa Mesum di Kost-an

Cereita Sex Desahan Mahasiswa Mesum di Kost-an – Ini merupakah kisah pertama kali aku langsung akrab dengan teman kuliahku, kami sangat kompak dan sering tidur bersama di satu kost kami. Bahkan sering dia mentraktirku. “Nis, aku senang sekali bertemu denganmu dan memang sudah lama kucari-cari, maukah kamu mengingap barang sehari atau dua hari di rumahku?” katanya sambil merangkulku dengan erat sekali. Nama teman kuliahku itu adalah “Nasir”.

”Kita lihat saja nanti. Yang jelas aku sangat bersukur kita bisa ketemu di tempat ini. Mungkin inilah namanya nasib baik, karena aku sama sekali tidak menduga kalau kamu tinggal di kota Makassar ini” jawabku sambil membalas rangkulannya. Kami cukup lama di sekitar pasar sentral Makassar, tepatnya di tempat jualan cakar.

“Ayo kita ke rumah dulu Nis, nanti kita ngobrol panjang lebar di sana, sekaligus kuperkenalkan istriku” ajaknya sambil menuntunku naik ke mobil milik Feroza. Setelah kami tiba di halaman rumahnya, Nasir terlebih dahulu turun dan segera membuka pintu mobilnya di sebelah kiri lalu mempersilakan aku turun.
Aku sangat kagum melihat rumah tempat tinggalnya yang berlantai dua. Lantai bawah digunakan sebagai gudang dan kantor perusahaannya, sementara lantai atas digunakan sebagai tempat tinggal bersama istri. Aku hanya ikut di belakangnya. “Inilah hasil usaha kami Nis selama beberapa tahun di Makassar” katanya sambil menunjukkan tumpukan beras dan ruangan kantornya.
Agen878

“Wah cukup hebat kamu Pak. Usahamu cukup lemayan. Kamu sangat berhasil dibanding aku yang belum jelas sumber kehidupanku” kataku Anda.
“Lin, Lin, inilah teman kuliahku dulu yang pernah kuceritakan tempo hari. Kenalkan istri cantik saya” teriak Nasir memanggil istrinya dan langsung kami dikenalkan.

“Alina”, kata istrinya menyebut ketika namanya kusalami mengungkapkan sambil tersenyum ramah dan manis seolah menunjukkan rasa kegembiraan.

“Anis”, kataku pula membalas senyumannya.
Nampaknya Alina ini adalah seorang istri yang baik hati, ramah dan selalu menjaga kecantikannya. umurnya kutaksir baru sekitar 25 tahun dengan tubuh sedikit langsing dan tinggi badan sekitar 145 cm serta berambut agak panjang.

Tangannya terasa hangat dan halus sekali. Setelah selesai menyambutku, Alina lalu mempersilakanku duduk dan ia buru-buru masuk ke dalam seolah ada urusan penting di dalam.

Belum lama kami bincang-bincang seputar perjalanan usaha Nasir dan pertemuannya dengan Alina di Kota Makassar ini, dua cangkir kopi susu beserta kue-kue bagus dihidangkan oleh Alina di atas meja yang ada di depan kami.

“Silakah Kak, nikmatin hidangan ala kadarnya” ajakan Alina langsung ke lubuk hatiku. Selain karena senyuman manisnya, semuanya juga terlihat karena penampilan, kecantikan dan sengatan bau farfumnya yang harum itu.

Dalam hati kecilku mengatakan, alangkah senang dan bahagianya Nasir bisa mendapatkan istri seperti Alina ini. Seandainya aku juga punya istri seperti dia, pasti aku tidak bisa ke mana-mana
“Eh, malah malah melamun. Ada masalah apa Nis sampai termenung begitu? Apa yang mengganggu pikiranmu?” kata Nasir sambil memegang pundakku, sehingga aku sangat kaget dan tersentak.
“Ti.. Tidak ada masalah apa-apa kok. Hanya aku yang menghadiri pertemuan kita hari ini. Kenapa bisa terjadi yah,” alasanku.

Alina hanya terdiam mendengar kami bincang-bincang dengan suaminya, tapi dia memandangiku dan melihat wajah cerianya.

“Sekarang giliranmu Nis cerita tentang perjalanan bersama istri setelah sejak tadi hanya aku yang bicara. Silahkan saja cerita panjang lebar mumpun hari ini aku tidak ada kesibukan di luar.
Lagi pula menganggap hari ini adalah hari keistimewaan kita yang perlu dimiliki bersama. begitu Lin..?” kata Nasir seolah-olah mencari dukungan dari istri dan waktunya siap digunakan khusus untukku.
“Ok, kalau begitu aku akan utarakan sedikit tentang kehidupan rumah tanggaku, yang sangat bertolak belakang dengan kehidupan rumah tangga kalian” ucapanku sambil memperbaiki dudukku di atas kursi empuk itu.
“Maaf jika terpaksa kuungkapkan secara terus terang. Sebenarnya kedatanganku di kota Makassar justru karena dipicu oleh masalah rumah tanggaku.Aku selalu cekcok dan tanpa objek dengan istriku gara-gara aku kesulitan mendapatkan lapangan kerja yang layak dan mempu menghidupi keluargaku.

Akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan rumah guna mencari pekerjaan di kota ini. Eh.. Belum aku temukan pekerjaan, tiba-tiba kita ketemu tadi setelah dua hari aku ke sana ke mari. Mungkin pertemuan kita ini ada hikmahnya. Semoga pertemuan kita ini merupakan jalan keluar untuk mengatasi kesulitan rumahtanggaku” Kisahku jujur ​​​​​​pada Nasir dan istrinya.

Mendengar kisah sedihku itu, Nasir dan istrinya tak akan berkomentar dan melihat ikut sedih, bahkan kami semua menunggunya. Kemudian secara bersamaan mulut Nasir dan istri terbuka dan seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba saling membuka dan menutup pintu seolah-olah saling mengharap untuk memulai, namun malahan mereka tertawa terbahak-bahak, yang membuat heran dan memaksa juga tertawa.

“Begini Nis, mungkin pertemuan kita ini benar-benar ada hikmahnya, karena kebetulan sekali kami butuh teman seperti kamu di rumah ini. Kami khan belum dikaruniai seorang anak, sehingga kami selalu kesepian.
Apalagi jika aku ke luar kota misalnya ke Bone, maka istriku terpaksa sendiri di rumah meskipun sekali-kali ia memanggil kemanakannya untuk menemani selama aku tidak ada, tapi aku tetap menghawatirkannya. Untuk itu, jika tidak memberatkan, aku ingin kamu tinggal bersamaku.
Meskipun kamu sudah mendapatkan lapangan kerja baru sebagai sumber mata pencaharianmu. Segala keperluan-harimu, aku coba sesuai kemampuanku” kata Nasir bersungguh-sungguh yang dilakukan oleh istrinya.

“Maaf kawan, aku tidak mau merepotkan dan merepotkanmu. Biarlah aku cari kerja di tempat lain dan..” Belum aku bicara, tiba-tiba Nasir selesai dan berkata..
“Kalau kamu tolak tawaranku ini berarti kamu tidak menganggapku lagi sebagai sahabat. Kami ikhlas dan bermaksud baik padamu Nis”.

“Tetapi,” Belum kuutarakan maksudku, tiba-tiba Alina juga ikut bicara..
“Benar Kak, kami sangat membutuhkan teman di rumah ini. Sudah lama hal ini kami temukan tapi mungkin baru kali ini dipertemukan dengan orang yang tepat dan sesuai hati nurani. Apalagi Kak Anis ini memang sahabat lama Kak Nasir, sehingga kami tidak perlu ragu lagi.

bahkan kami sangat senan jika Kak meminta kehadiran untuk tinggal bersama kita di rumah ini” ucapan Alina memberi dorongan kuat padaku.

“Kalau begitu, apa boleh buat. Terpaksa kuterima dengan senang hati, sekaligus kuucapkan terima kasih yang tak terhingga atas budi baik. Tapi Ya ampun, aku tak memiliki keterampilan apa-apa untuk membantu kalian” kataku dengan pasrah.

Tiba-tiba Nasir dan Alina bersamaan berdiri dan langsung saling berpelukan, bahkan saling mengecup bibir sebagai tanda kegembiraannya. Lalu Nasir melanjutkan rangkulannya padaku dan juga mengecup pipiku, sehingga aku sedikit malu dibuatnya.

“Terima kasih Nis atas kesediaanmu menerima tawaranku semoga kamu menghargai dan tidak kesulitan apapun di rumah ini. Kami tidak membutuhkan keterampilanmu, melainkan kehadiranmu menemani kami di rumah ini.

Kami hanya butuh teman bermain dan tukar pikiran, karena tenaga kerjaku sudah cukup untuk membantu mengelola usahaku di luar. Kami sewaktu-waktu membutuhkan nasihatmu dan istriku pasti merasa senang dengan kehadiranmu menemani jika aku mengatakannya dengan sangat senang dan senang mendengar persetujuanku.

Kurang lebih satu bulan kami seolah hanya diperlakukan sebagai raja di rumah itu. Makanku diurus oleh Alina, tempat tidurku juga dibersihkan olehnya, bahkan ia meminta untuk mencuci pakaianku yang kotor tapi aku peduli.

Selama waktu itu pula, aku sudah dilengkapi dengan pakaian, bahkan kamar tidurku dibelikan TV 20 inch lengkap dengan VCD-nya. Aku sangat malu dan merasa berutang budi pada mereka, karena selain pakaian, uang tunai yang cukup besar, bahkan belakangan kuketahui jika ia sering mengirimkan pakaian dan uang ke istri dan anak-anakku di Bone lewat mobil.

Kami bertiga sudah cukup akrab dan hidup dalam satu rumah seperti saudara kandung bersenda gurau, bercengkerama dan bergaul tanpa batas seolah tidak ada perbedaan status seperti majikan dan karyawannya.

Kebebasan pergaulanku dengan Alina memuncak ketika Nasir berangkat ke Sulawesi Tenggara selama beberapa hari untuk membawa beras untuk di jual di sana karena ada permintaan dari langgarannya.
Pada malam pertama keberangkatan Nasir, Alina nampak gembira sekali seolah tidak ada apa-apa. Bahkan sempat mengatakan kepada suaminya jika ia tidak takut lagi ditinggalkan meskipun berbulan-bulan setelahnya karena sudah ada yang menjaganya, namun ucapannya dianggapnya sebagai humor terhadap suaminya. Nasir pun nampak tidak ada pemberitahuan istrinya istrinya dengan alasan yang sama.

Malam itu kami (aku dan Alina) menonton bersama di ruang tamu hingga larut malam, karena kami sambil bertukar pengalaman, termasuk tentang sebelum nikah dan latar belakang perkawinan kami masing-masing.
Sikap dan tingkah laku Alina sedikit berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Malam itu, Alina membuat kopi susu dan menyodorkanku bersama pisang susu, lalu kami nikmati bersama-sama sambil menonton. Ia makan sambil tertawa di sampingku seolah-olah dianggap biasa saja. aku tidak tahu apa-apa di benakku sambil lalu, namun akupura-pura bercerita biasa, meskipun ada ganjalan di benakku.
“Nis, kamu tidak keberatan khan menemaniku nonton malam ini? Besok tidak ada yang mengganggu kita sehingga kita bisa tidur siang sepuasnya?”tanya Alina tiba-tiba seolah-olah ia membuka pembelian.
“Tidak kok Lin. Aku justru senang dan bahagia bisa nonton bersama majikanku” kataku sedikit menyanjungnya. Alina lalu mencubitku dan..

“Wii de.. De, kok aku dibilangin majikan. Sebel aku dulu. Ah, jangan ulang kata itu lagi deh, aku tak sudi dipanggil majikan” katanya.
“Hai.. Hai.. Hai, jangan salah khan. Maaf jika tidak senang, saya hanya main-main. Lalu aku harus memanggil apa? Adik, Non, Nyonya atau apa?”
“Terserah dech, yang penting bukan majikan. Tapi aku lebih senang jika kamu memanggil aku adik” katanya santai.

“Oke kalau begitu maunya. Aku akan memanggil adik saja” kataku lagi.
Malam semakin larut. Tak terdengar suara kecuali suara kami berdua dengan suara TV. Alina tiba-tiba bangkit dari pembaringannya.
“Nis, apa kamu sering nonton kaset VCD bersama istrimu?” tanya Alina dengan sedikit rendah suaranya seolah tak mau didengar orang lain.

“Eng.. Pernah, tapi sama-sama dengan orang lain juga karena di rumahnya” jawabku menyembunyikan sikap keherananku di atas pertanyaannya yang tiba-tiba dan sedikit aneh itu.
“Kamu ingat judulnya? Atau jalan ceritanya?” tanyanya lagi.
Aku lupa judulnya, tapi pemainnya adalah Rhoma Irama dan ceritanya adalah masalah percintaan” jawabku dengan pura-pura biasa.

“Masih mau ngga kamu temani aku nonton film dari VCD? kebetulan aku punya kaset VCD yang banyak. Judulnya macam-macam. Terserah yang mana Anis suka” tawarannya, tapi aku sempat berpikir kalau Alina akan memutar film yang aneh-aneh, film orang dewasa dan biasanya khusus ditonton oleh suami istri untuk membangkitkan gairahnya.
Setelah kupikir segala resiko, kepercayaan dan dosa, aku lalu bikin alasan.
“Sebenarnya aku senang sekali, tapi aku takut.. Eh.. Maaf aku sangat ngantuk. Jika tidak sedikit, pasti temani” kataku bimbang dan takut alasanku salah. Tapi akhirnya ia terima meskipun sedikit kecewa di wajah dan kurang.

“Baiklah jika memang kamu sudah ngantuk. Aku tidak mau sama sekali memaksamu, lagi pula aku sudah cukup senang dan bahagia menemaniku menonton sampai larut ini.

Ayo kita masuk tidur” sambil mematikan TV-nya, namun sebelum aku menutup pintu kamarku, aku melihat melihat sempat memperhatikanku, tapi aku pura-pura tidak mengunjunginya.
Di atas tempat tidurku, aku gelisah dan bingung mengambil keputusan tentang alasanku jika besok atau lusa ia kembali mengajakku menonton film tersebut. Antara mau, malu dan rasa takut selalu membacaiku.
Mungkin dia juga mengalami hal yang sama, karena dari dalam kamarku selalu terdengar ada pintu kamar terbuka dan tertutup serta air di kamar mandi selalu mendengar tertumpah.

Setelah kami makan malam bersama keesokan harinya, kami kembali ke TV sama-sama di ruang tamu, tapi penampilan Alina kali ini biasanya. Ia berpakaian serba tipis dan tercium bau farfumnya yang harum sepanjang hidup sepanjang ruang tamu itu.

Jantungku sempat berdebar dan gelisah mencari alasan untuk menolak ajakannya, meskipun gejolak kecilku untuk kemauannya lebih besar dari penolakanku. Belum aku sempat menemukan alasan tepat, maka

“Nis, masih ingat janjimu tadi malam? Atau kamu sudah ngantuk lagi?” pertanyaan Alina tiba-tiba mengagetkanku.

“O, oohh yah, aku ingat. Nonton VCD khan? Tapi jangan yang seram-seram donk filmnya, aku tak suka. Nanti aku mimpi buruk dan membuatku sakit, khan repot jadinya” jawabku mengingatkan untuk tidak memutar film porno.

“Kita liat aja permainannya. Kamu pasti senang menyaksikannya, karena aku yakin kamu belum pernah menontonnya, lagi pula ini film baru” kata Alina sambil meraih kotak yang berisi setumpuk kaset VCD lalu menarik sekeping kaset yang paling di atas seolah-olah mempersiapkannya, lalu masukkan ke CD, lalu mundur dua langkah dan duduk di sampingku menunggu apa gerangan yang akan muncul di layar TV tersebut.

Dug, dig, dug, getaranku sangat keras menunggu gambar-gambar yang akan ditampilkan di layar TV. Mula-mula aku yakin kalau filmnya adalah film yang dapat dipertontonkan secara umum karena gambar pertama yang muncul adalah dua orang gadis yang sedang naik speed board atau sampan dan saling membalap di atas udara.

Namun dua menit kemudian, muncul pula dua orang pria yang mengejarnya dengan menaiki kendaraan yang sama, akhirnya keempatnya bertemu di tepi sungai dan bergandengan tangan lalu masuk ke salah satu vila untuk bersantai bersama.

Tak lama kemudian mereka berpasang-pasangan dan saling membuka pakaian, lalu saling merangkul, mencium dan seterusnya sebagaimana layaknya suami istri. Niat pengenku tiba-tiba terlupakan dan terganti dengan niat kemauanku.

Kami tidak mampu mengeluarkan kata-kata, terutama ketika kami menyaksikan dua pasang muda mudi bertelanjang bulat dan saling menjilat, bahkan saling mengadu alat yang paling vital. Kami hanya bisa saling memandang dan tersenyum.
“Gimana Nis,? Asyik khan? Atau ganti yang lain saja yang lucu-lucu?” pancing Alina, tapi aku tak menjawabnya, malah aku melenguh panjang.

“Apa kamu sering dan senang nonton film beginian bersama suamimu?” giliran aku bertanya, tapi Alina mengungkapkan tajam lalu mengangguk.

“Hmmhh” kudengar suara nafas panjang Alina keluar dari mulutnya.
“Apa kamu pernah praktekkan seperti di film itu Nis?” tanya Alina ketika salah seorang wanitanya sedang menungging lalu laki-lakinya menusukkan kontolnya dari belakang lalu mengocoknya dengan kuat.
“Tidak, belum pernah” jawabku singkat sambil kembali bernafas panjang.

“Maukah kamu kelak nanti?” tanya Alina dengan suara rendah.
“Dengan siapa, kami khan pisah dengan istri untuk sementara” kataku.
“Jika kamu bertemu istrimu nanti atau wanita lain misalnya” kata Alina.
“Yachh.. Kita liat saja nanti. Boleh juga kami coba nanti hahaha” kataku.
“Nis, apa malam ini kamu tidak ingin bertahan?” Tanya Alina sedikit merapatkan tubuhnya. Saking rapatnya sehingga tubuhnya terasa hangat dan bau harumnya.
“Dengan siapa? Apa dengan wanita di TV itu?” pencarian

“Gimana jika dengan aku? Mumpung hanya kita berdua dan nggak bakal ada orang lain yang tahu. Mau khan?” Tanya Alina lebih mengarah ke kontak tangan, bahkan menyandarkan tubuh ke badanku.

Sungguh aku kaget dan jantungku seolah-olah copot mendengar penjelasannya, apalagi aku menyentuhku. Aku tidak mampu lagi berpikir apa-apa, melainkan menerima apa adanya malam itu.
Saya tidak akan mungkin menolak dan mengecewakannya, karena apalagi saya sangat menginginkannya, karena beberapa bulan saya tidak melakukan seks dengan istriku. Aku mencoba memperkuat badanku pula, lalu mengelus dan merangkul punggungnya, sehingga terasa hangat sekali.
“Apa kamu serius? Apa ini mimpi atau kenyataan?” Tanyaku sangat gembira.

“Akan kubuktikan keseriusanku sekarang. Rasakan ini sayang” tiba-tiba Alina lalu mengangkangi kedua pahaku dan duduk di atasnya sambil memelukku, serta mencium pipi dan bibirku bertubi-tubi.
Tentu aku tidak mampu menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku segera menyambutnya dan membalasnya dengan sikap dan tindakan yang sama. Nampaknya Alina sudah ingin segera membuktikan dengan melepas sarung yang dipakainya, tapi aku belum mau membuka celana panjang yang dipakai malam itu.
Pergumulan kami dalam posisi duduk cukup lama, meskipun berkali-kali Alina memintaku untuk segera melepaskan celanaku, bahkan ia sendiri beberapa kali berusaha membuka kancingnya, tapi selalu saja kuminta agar ia bersabar dan pelan-pelan sebab waktunya sangat panjang.

“Ayo Kak Nis, cepat sayang. Aku sudah tak ingin membuktikannya” rayu Alina sambil melepas rangkulannya lalu tidur telentang di atas karpet abu sambil menarik kami untuk menindihnya. Aku tidak tega membiarkan ia penasaran terus, sehingga aku segera menindihnya.

ceritabokeb.com

“Buka celana sayang. Cepat.. Aku sudah capek nih, ayo dong,” pintanya.
Akupun segera sesuai permintaannya dan melepas celana panjangku. Setelah itu, Alina menjepitkan ujung jari ke bagian atas celana dalamku dan berusaha mendorongnya ke bawah, tapi tak berhasil karena aku sengaja mengangkatku tinggi untuk menghindarinya.

Ketika saya mencoba menyingkap baju daster yang dipakainya ke atas lalu ia sendiri melepaskannya, aku kaget karena tak kusangka kalau ia sama sekali tidak memakai celana. Dalam hatiku bahwa mungkin ia memang sengaja siap-siap akan bersetubuh denganku malam itu.

Di bawah sinar lampu 10 W yang dibarengi dengan cahaya TV yang semakin seru bermain bugil, saya sangat jelas menyaksikan sebuah lubang yang dikelilingi daging montok nan putih mulus yang tidak ditumbuhi bulu selembar pun.

Tampak sebuah benda mungil seperti biji kacang di tengah-tengahnya. Rasanya cukup menantang dan mempertinggi birahiku, tapi aku tetap berusaha mengendalikannya agar aku bisa lebih lama bermain-main dengannya. Ia sekarang sudah bugil 100%, sehingga terlihat bentuk tubuhnya yang langsing, putih mulus dan indah sekali dipandang.

“Ayo donk, tunggu apa lagi sayang. Jangan biarkan aku tersiksa seperti ini” pinta Alina tak pernah berhenti untuk segera menikmati puncaknya.
“Tenang sayang. Aku pasti akan memuaskanmu malam ini, tapi saya masih mau bermain-main lebih lama biar kita lebih banyak menikmatinya” kataku
Secara perlahan tapi pasti, ujung lidahku mulai menyentuh tepi lubang kenikmatannya sehingga membuat pinggulnya bergerak-gerak dan berdesis.

“Nikmat khan kalau begini?” sambil bertanya menggerak-gerakkan lidahku ke kiri dan ke kanan lalu menekannya lebih dalam lagi sehingga Alina setengah berteriak dan mengangkat tinggi pantatnya seolah menyambut dan ingin memperdalam pintu lidahku.

Ia hanya mengangguk dan memperdengarkan suara desis dari mulutnya.
“Auhh.. Aakkhh.. Iihh.. Uhh.. Oohh.. Sstt” suara itu tidak dapat dikurangi ketika aku gocok-gocokkan secara lebih dalam dan keras serta cepat keluar masuk lubangnya.
“Teruuss sayang, nikkmat ssekalii.. Aakhh.. Uuhh. Saya belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya” katanya dengan suara yang agak keras sambil menarik perhatian agar lebih rapat lagi.
“Bagaimana? Sudah siap menyambut lidahku yang panjang lagi keras?” bertanya sambil melepaskan seluruh pakaianku yang masih tersisa dan kamipun sama-sama bugil.
Persentase melakukan tak sehelai benangpun yang melapisinya. Terasa hangatnya hawa yang keluar dari tubuh kami.

“Iyah,. Dari tadi aku menunggu. Ayo,. Cepat” kata Alina tergesa-gesa sambil membuka lebar-lebar kedua pahanya, bahkan membuka lebar-lebar lubang vaginanya dengan menarik kiri kanan kedua untuk memudahkan saya masuk lebih dalam lagi.

Aku pun tidak mau menunda-nunda lagi karena memang sudah puas dengan lidah di mulut atas dan mulut bawahnya, apalagi keduanya sangat basah. Aku mengangkat kedua bertumpu pada bertumpu pada bahuku dan berusaha keras pada ujungku ke lubang vagina yang tadi menunggu itu. Ternyata tidak mampu kutembus sekaligus sesuai keinginanku. Ujung kulitku terhenti, padahal Alina bukan perawan lagi.

“Ssaakiit ssediikit.., ppeelan-pelan sedikit” kata Alina ketika ujung penisku sedikit kutekan agak keras. Aku gerakkan ke kiri dan ke kanan tapi juga belum berhasil amblas.
Aku turunkan kedua langkahnya meraih sebuah bantal kursi yang di belakanku lalu kuganjalkan di bawah pinggulnya dan membuka lebar kedua pahanya lalu kudorong penisku agak keras sehingga sudah mulai masuk setengahnya.

Alinapun merintih keras tapi tidak berkata apa-apa, sehingga aku tak peduli, malah semakin kutekan dan kudorong masuk hingga amblas secara keseluruhan. Setelah batang seluruhku terbenam semua, aku berhenti bergerak karena lelah dan melemaskan tubuhku di atas tubuh Alina yang juga diam bernapas panjang seperti kali ini menikmati betul persetubuhan.

Alina kembali menggerak-gerakkan pinggulnya dan akupun menyambutnya. Bahkan aku tarik maju mundur sedikit demi sedikit hingga agak cepat sekali. Pinggul kami bergerak, bergoyang dan berputar seirama sehingga menimbulkan bunyi-bunyian yangberirama pula.
“Tahan Kemana” kataku sambil mengangkat kepala Alina tanpa membuka penisku dari lubang vagina Alina sehingga kami dalam posisi duduk.

Kami saling merangkul dan menggerakkan pinggul, tapi tidak lama karena terasa sulit. Lalu aku masalah dan telentang sambil menarik perhatian Alina mengikutiku, sehingga Alina berada di atasku. Kusarankan agar ia menggoyang, mengocok dan dengan keras lagi cepat.

Ia pun cukup mengerti keinginanku sehingga kedua bertumpu di atas dadaku lalu menghentakkan agak keras bolak balik pantatnya ke penisku, sehingga terlihat lemas dan seolah-olah jatuh karena baru kali itu ia melakukannya dengan posisi seperti itu.

Karena itu, kumaklumi jika ia cepat lelah dan segera menjatuhkan tubuhnya menempel di atas tubuhku, meskipun pinggulnya masih tetap bergerak naik turun.
“Kamu mungkin sangat capek. Bagaimana kalau ganti posisi?” kataku sambil mengangkat tubuh Alina dan melapas rangkulannya.

“Posisi bagaimana lagi? Aku sudah beberapa kali merasa nikmat sekali” tanyanya heran seolah tidak tahu apa yang akan kulakukan, namun tetap mengikuti permintaanku karena aku merasa sangat senang dan belum pernah mengalami permainan seperti itu sebelumnya.
“Terima saja permainanku. Aku akan mengunjungi beberapa pengalamanku”
“Yah.. Yah.. Cepat lakukan apa saja” katanya singkat.

Aku berdiri lalu mengangkat tubuhnya dari belakang dan kutuntunnya hingga ia dalam posisi nungging. Setelah kubuka sedikit kedua pahanya dari belakan, aku lalu menusukkan kembali ujung penisku ke lubangnya lalu mengocok dengan keras dan cepat sehingga menimbulkan bunyi dengan irama yang indah seiring dengan gerakanku.

Alina pun terengah-engah dan napasnya terputus-putus menerima kenikmatan itu. Posisi kami ini tak lama sebab Alina tak menahan rasa lelahnya ayak sambil kupompa dari belakan. Karenanya, aku kembalikan ke posisi semula yaitu tidur telentang dengan paha terbuka lebar dan kukocok dari depan, lalu kuangkat kedua sandaran ke bahuku.

Posisi inilah yang membuat permainan kami memuncak karena tak lama setelah itu, Alina berteriak-teriak sambil merangkul keras pinggangku dan mencakar-cakar punggungku. Bahkan menarik dengan keras menempelkan ke wajah dan benda kecilnya. Bersamaan dengan itu pula, saya merasakan ada cairan hangat mulai menjalar di batang penisku, terutama ketika terasa sekujur tubuh Alina gemetar.

Baca Juga : Cerita Sex Godaan Birahi Seorang Anak Gadis Kost

Aku tetap berusaha untuk menghindari pertemuan antara spermaku dengan sel telur Alina, tapi terlambat, karena baru aku mengangkatku dan berniat untuk menumpahkan di luar rahimnya, tapi Alina malah mengikatkan tangan lebih erat seolah-olah melarangku menumpahkan di luar yang cairan kental dan panas itu tumpah seluruhnya di dalam rahim Alina.

Alina tidak menyesal, malah sedikit ceria menerimanya, tapi aku diliputi rasa takut kalau-kalau jadi janin nantinya, yang akan membuat malu dan hubungan pertemananku berantakan.
Setelah kami sama-sama mencapai puncak, puas dan menikmati persetubuhan yang sesungguhnya, kami berbaring di atas karpet tanpa bantal. Layar TV sudah berwarna biru karena pergumulan filmnya sejak tadi selesai.

Aku melihat jam dinding menunjukkan pukul 12.00 malam tanpa terasa kami bermain kurang lebih 3 jam. Kami sama-sama terdiam dan tak mampu berkata-kata apapun hingga tertidur lelap. Setelah membangun jam 7.00 pagi di tempat itu, rasanya masih terasa capek bercampur segar.

“Nis, kamu sangat hebat. Aku belum pernah mendapatkan kenikmatan dari suamiku selama ini seperti yang kamu berikan tadi malam” kata Alina ketika ia juga membangun pagi sambil merangkulku.
“Benar nih, jangan-jangan hanya gombal untuk menyenangkanku” tanya saya.

“Sumpah.. Terus terang suamiku lebih banyak kesenangannya dan posisi mainnya hanya satu saja. Ia di atas dan aku di bawah. Kadang ia loyo sebelum kami apa-apa. Kontolnya begitu pendek sehingga tidak mampu memberikan kenikmatan seperti yang kami berikan.

Andai saja kamu suamiku, pasti aku bahagia sekali dan selalu mau bersetubuh, kalau perlu hari dan setiap malam” seolah-olah menyesali hubungannya dengan dan membandingkan denganku.
“Tidak boleh sayang. Itu namanya sudah jodoh yang tidak mampu kita tolak. Kitapun berjodoh bersetubuh dengan cara selingkuh. Sudahlah. Yang penting kita sudah menikmatinya dan akan terus menikmatinya” kataku sambil menikmatinya sekaligus mencium keningnya.
“Maukah terus menerus memberiku kenikmatan seperti tadi malam ketika suamiku tak ada di rumah” tanyanya menuntut janjiku.

“Iyah, pasti selama aman dan aku tinggal cinta. Masih banyak permainanku yang belum kutunjukkan” kataku peminjaman akan berulangnya
“Gimana kalau istri dan anak-anakmu nanti datang?” tanyanya khawatir.

“Gampang diatur. Aku kan pembantumu, sehingga aku bisa selalu dekat denganmu tanpa kecurigaan istriku. Apalagi istriku pasti tak tahan tinggal di kota karena ia sudah terbiasa di kampung bersama keluarganya tapi yang kutakutkan jika kamu hamil tanpa diakui suamimu” kataku.
“Aku tak bakal hamil, karena aku akan memakan pil KB sebelum bermain seperti yang kulakukan tadi malam, karena memang telah kurencanakan” kara Alina terus terang.

Setelah kami bincang-bincang sambil tiduran di atas karpet, kami lalu ke kamar mandi masing-masing membersihkan diri lalu kami ke halaman rumah membersihkan setelah sarapan pagi bersama.
Sejak saat itu, kami hampir setiap malam melakukannya, terutama ketika suami Alina tak ada di rumah, baik siang hari apalagi malam hari, bahkan beberapa kali kulakukan di kamarku ketika suami Alina masih berada di kamarnya, karena Alina sendiri yang mendatangi kamarku ketika sedang “haus” ” ” .
Entah sampai kapan hal ini akan berlangsung, tapi yang jelas hingga saat ini kami masih ingin melakukannya dan belum ada tanda-tanda kecurigaan dari suaminya dan dari istriku.

Related posts